Posted by: safarah | 52007000UTC11bUTCFri, 30 Nov 2007 01:39:51 +0000 24, 2007

Dalil-Dalil Ulama Salafus-Shalih yang Membolehkan Nyanyian dan Musik (Bagian I)

Ikhwah wa akhwat fiLLAAH a’azzakumuLLAAH, sebagai salah satu contoh dari pembahasan kita yang lalu tentang berbagai perbedaan pendapat dalam masalah furu’iyyah-fiqhiyyah yang masing-masing memiliki kekuatan hujjah serta dalil yang shahih, akan ana bahas di sini contoh yang berkaitan dengan masalah nyanyian dan musik..

Di berbagai website dan millist diposting fatwa-fatwa yang ulama mengharamkan nyanyian dan musik, dan ini menurut ana -demi ALLAAH- adalah baik, karena para pemusik akhir-akhir ini sudah banyak yang terjerumus kepada perilaku ghuluww (berlebihan) yang memang diharamkan, bahkan ada pula yang sudah terjatuh kepada syirik karena bait-bait syairnya sudah menyentuh esensi tauhid kepada ALLAAH Yang maha Tinggi lagi Maha Esa..

Tetapi yang menjadi masalah, adalah jika hal ini kemudian dianggap sudah qath’iy (pasti kebenarannya) lalu celaan dan vonis dilontarkan seolah-olah masalah ini sudah muttafaq-‘alayh (disepakati kebenarannya) di kalangan kaum Salaf, kemudian yang lebih parah hal inipun diikuti dengan tuduhan-tuduhan muttabi’ul-hawa’ (para pengikut hawa nafsu), ‘abdul-kuffar (pengabdi orang kafir) oleh sebagian kaum juhala’ terhadap fatwa para ulama yang berbeda dalam masalah ini, maka ini sikap seperti ini adalah telah menyimpang dan harus diluruskan..

Ikhwah wa akhwat a’anakumuLLAAH, jika kalangan ulama mujtahidun masing-masing mereka bersikap keras dan tegas dengan pendapatnya masing-masing, maka yang demikian itu memang dibolehkan, karena hal demikian adalah demi untuk menegakkan hujjah dan menjelaskan dalil masing-masing pihak di antara mereka, dan yang demikian ini biasa di kalangan salaf, tapi jika sikap ini kemudian diikuti oleh para pengikutnya, maka hal ini hanyalah menunjukkan kebodohan dan lemahnya ilmu serta rendahnya akhlaq belaka..

Mengapakah para muqallidin (pengikut) ini ikut-ikutan bersikap-keras dan mencela serta memvonis? Apakah mereka sedang menegakkan hujjah, maka hujjah apakah itu namanya, jika cuma bisa meng-copy fatwa Syaikh Fulan dan ustaz Fulan? Siapakah mereka sehingga berani menyalahkan ulama mujtahid yang berbeda dengan mereka, yang pendapatnya juga disandarkan kepada dalil yang shahih? Tidaklah hal yang demikian ini kecuali hanya menunjukkan tong kosong yang berbunyi nyaring dan juga berakhlaq kering, salaamun ‘alaykum laa nabtaghil jaahiliin..

Arti Bahasa

Nyanyian/lagu (الغناء / dengan huruf ‘ghin’ yang ber-harakat kasrah): diartikan melebihkan/memperindah[1] sebagaimana dalam hadits “Bukan golonganku orang yang tidak melebihkan/memperindah suara saat membaca Al-Qur’an[2]”; juga diartikan suara, keindahan dan kecantikan[3]; nyanyian, tabuhan, senandung/nasyid, bacaan yang nyaring dan merdu[4] sebagaimana dalam hadits: “Tidaklah ALLAAH SWT lebih menyukai sesuatu daripada mendengar bacaan Nabi-NYA yang membaca Al-Qur’an dengan suara yang merdu[5]” Atau dalam hadits lainnya: “Hiasilah Al-Qur’an itu dengan suaramu, karena suara yang indah akan menambahkan keindahan Al-Qur’an”[6]; juga bermakna alat musik[7] juga Sya’ir[8] sebagaimana yang dilakukan Al-Hasan bin Tsabbit ra ahli sya’ir di masa nabi SAW; tapi ia juga bisa bermakna (اللهو/melalaikan), sebagimana dalam ayat (لهو الحديث)[9] atau dalam ayat yang lain (اولهوا)[10]. Jadi nampak jelaslah bahwa ia memiliki dua makna yang berbeda, makna yang baik (sebagaimana dalam hadits-hadits di atas) maupun makna yang yang buruk (sebagaimana dalam ayat-ayat di atas), sehingga membawa makna yang hakiki hanya pada satu makna saja, hanyalah sebuah kezhaliman belaka.

Dalil-Dalil Al-Qur’an yang Dianggap Mengharamkan dan Bantahannya

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ

“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.[11]”

Ada atsar shahih dari Ibnu Mas’ud ra yang bersumpah dengan berkata: “Demi ALLAAH maksudnya adalah nyanyian.[12]” Sebagian ulama salaf menyebutkan bahwa tafsir sahabat ra sederajat dengan hadits marfu’, demikian pendapat Al-Hakim dan Ibnul Qayyim[13], sehingga tafsir ini dianggap merupakan satu-satunya tafsir atas ayat tersebut.

Pendapat ini dibantah oleh sebagian ulama Salaf lainnya, bahwa pendapat tafsir sahabat ra sederajat dengan hadits marfu’ tidak benar kecuali jika mengenai sabab-nuzul ayat saja, karena seringkali antara seorang sahabat ra dengan sahabat ra yang lain berbeda pendapat dalam menafsirkan sebuah ayat, maka bagaimana mungkin disetarakan dengan hadits marfu’[14]?

Diantara mereka yang tidak setuju dengan pendapat tafsir sahabat ra sederajat dengan hadits marfu’ ini adalah Imam Ibnu Hazm beliau –rahimahuLLAAH- berhujjah sbb: 1) Tidak ada seorangpun yang pendapatnya ma’shum kecuali Nabi SAW, 2) Tafsiran tersebut berbeda dengan tafsiran sahabat ra dan tabi’in yang lainnya, 3) Nash ayat itu sendiri sudah membantah hujjah mereka sendiri.

Ana berkata: Benarlah apa yang dikatakan Imam Ibnu Hazm tersebut, berkaitan dengan point (2) yang dikatakannya misalnya, tafadhal dilihat dalam tafsir Ulama Salaf atas ayat tersebut, bahwa terjadi perbedaan pendapat tentang makna ayat ini, ada yang berpendapat maknanya adalah “nyanyian dan musik[15]”; ada yang berpendapat maknanya adalah “kata-kata yang batil” ada yang berpendapat maknanya adalah “syirik”[16]. Bahkan Syaikhul Mufassir di kalangan Ulama Salaf sendiri, yaitu Imam At-Thabari setelah menyebutkan perbedaan pendapat tentang tafsir ayat ini berkata: “Yang benar menurut pendapatku adalah: Segala sesuatu perkataan yang melalaikan dari jalan ALLAAH, maka semua itu yang termasuk yang dilarang oleh ALLAAH dan Rasul-NYA, karena ALLAAH SWT menjelaskan dengan lafzh yang umum (‘amm) dan IA tidak mengkhushuskannya dengan sesuatu pun, maka ia tetap pada keumumannya sampai adanya dalil tentang pengkhushusan maknanya, maka baik itu musik, atau syirik semuanya bisa saja menjadi maknanya.[17]” SELESAI KUTIPAN DARI IMAM AT-THABARI

Adapun berkaitan dengan hujjah ke (3) yang dikatakannya juga benar –dengan izin ALLAAH, insya ALLAAH- karena ayat tersebut mengancam pelakunya menjadi kufr biduni khilaf (kafir tanpa khilaf lagi), sementara tidak ada keterangan Salaf yang menyatakan bahwa bermain musik menjadikan pelakunya menjadi kafir sebagaimana ancaman dalam ayat ini[18], Imam Ibnu Athiyyah juga berpendapat kafirnya pelaku dalam ayat ini[19], Imam Ar-Razi menyatakan bahwa demikian jahatnya pelaku yang dicela dalam ayat ini, karena mereka bersifat: (1) Menjual ayat ALLAAH dengan harga murah, (2) Bersikap sombong luar-biasa, yang dicirikan dengan kalimat (مُسْتَكْبِرًا كَأَنْ لَمْ يَسْمَعْها) takabbur yang sangat, (3) Hati yang keras membatu tidak bisa menerima kebenaran (كَأَنَّ فِي أُذُنَيْهِ وَقْرًا)[20]; maka kesemuanya itu tidak mungkin dikarenakan hanya karena ia adalah seorang pemusik atau ia suka mendengarkan musik. WaliLLAAHil hamdu wal minah..

(Bersambung insya ALLAAH tabaraka wa ta’ala…)

___
Catatan Kaki:

[1] Al-Muhith fil Lughah, I/421

[2] HR Bukhari, Bab Man Lam Yataghanna bil Qur’an, XVII/20

[3] Jamharah Al-Lughah, II/108; juga II/27

[4] Al-Mukhashshish, I/178

[5] HR Muslim, Bab Istihbab Tahsinu Shaut, V/204

[6] HR Al-Hakim, I/575; Abu Daud no. 1320; Ibnu Sa’ad, VI/90; dan di-shahih-kan oleh Albani dalam Ash-Shahihah, II/414

[7] Al-Mu’jam Al-Wasith, II/241

[8] Mu’jam Lughah Al-Fuqaha’, I/335

[9] QS Luqman, 31/6

[10] QS Al-Jum’ah, 62/11

[11] QS Luqman, 31/6

[12] HR Al-Baihaqi, dalam Al-Kubra’, X/223

[13] Ighatsatu Lahfan, I/258-259

[14] Al-Muhalla, IX/10

[15] Tafsir At-Thabari, XX/126

[16] Ibid, XX/129

[17] Ibid, XX/130

[18] Ana katakan: Bahkan ahlul-hadits setingkat Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya yang terkenal tentang dosa2 besar, yaitu Al-Kaba’ir tidak memasukkan nyanyian dan musik sebagai dosa besar yang mengkafirkan pelakunya, maka bagaimana ia bisa menjadi penyebab kekafiran sebagaimana diancam oleh ayat ini? Bahkan Imam Ibnul Qayyim yang mengharamkan nyanyian-pun menyatakan bahwa sifat2 dalam ayat ini tidak akan ada kecuali kepada orang yang amat kufur kepada ALLAAH (Lih. Penjelasannya dalam kitabnya Ighatsatu Lahfan, I/259). Fa’tabiru ya ulil albab..

[19] Al-Wajiz, XI/484

[20] Al-Kabir, XIII/141-142


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: