Posted by: safarah | 52007000UTC11bUTCFri, 30 Nov 2007 02:10:50 +0000 24, 2007

Adab Berdo’a atau Berdzikir

Al-Ikhwan.net – Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan pada saat berdo’a ataupun pada saat berdzikir. Inti dari adab-adab ini adalah bahwa adab dzikir dan do’a harus memiliki dalil yang jelas, baik itu dari Al-Qur’an atau dari Al-Hadits, bukan berdasarkan petunjuk hawa nafsu.

“Sekali-kali tidak! Demi Tuhanmu! Mereka belum beriman, sampai mereka menjadikan kamu (wahai Muhammad) sebagai hakim bagi semua urusan mereka, lalu tidak ada keberatan sedikitpun di dalam hati mereka atas putusanmu dan mereka pasrah dengan hati yang lapang.” (QS An-Nisa’, 4/65)

“Dan apa-apa yang diberikan oleh Rasul maka ambillah dan apa-apa yang dilarangnya maka tinggalkanlah, dan takutlah kepada ALLAH! Sesungguhnya ALLAH amat keras siksanya.” (QS Al-Hasyr, 59/7)

“Dan hendaklah merasa takut orang yang menyelisihi perintah Rasul akan ditimpa suatu musibah atau adzab yang pedih.” (QS An-Nur, 24/63)

Berikut ini adalah beberapa hal tersebut:

1. Doa dan dzikir yang paling utama adalah membaca Al-Qur’an. Berkata Syaikh Al-Abubakar Jazairi : “Al-Qur’an adalah dzikir yang paling utama, karena ia adalah kata-kata ALLAH SWT dan ia adalah doa & dzikir termulia yang hanya diberikan melalui lisan para Rasul.” [1]

2. Hendaklah memulai berdoa dengan menghafal doa yang ada di dalam Al-Qur’an dan hadits-hadits yang shahih. Berkata Syaikhul Islam: “Doa dan dzikir adalah ibadah, dan syarat ibadah adalah ittiba’ (mengikuti) Nabi SAW, bukan mengikuti hawa nafsu & bukan pula mengada-ngada membuat sesuatu yang tidak ada contohnya dari nabi SAW [2].” Lebih lanjut Syaikhul Islam berkata: “Diantara perbuatan tercela ialah orang yang menggunakan hizib dan wirid yang tidak ada contohnya dari Nabi SAW, sekalipun itu berasal dari gurunya, sementara ia justru meninggalkan dzikir dan wirid yang diajarkan oleh Nabinya SAW, yang merupakan hujjah ALLAH SWT atas hamba-hamba-NYA [3].”

3. Hendaklah orang yang membaca doa/dzikir memahami maknanya dan wajib melaksanakan hukum ALLAH SWT setelah berdzikir tsb. Berkata Imam Ibnu Qayyim: “Dzikir yang paling baik adalah doa dan dzikir yang diyakini di dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan perbuatan, yaitu yang dicontohkan oleh RasuluLLAH SAW dan orang yang membacanya memahami maknanya dan apa yang terkandung di dalamnya [4].”

4. Tidak boleh disertai oleh sikap berlebih-lebihan, pamer (riya’), sikap khusyu yang dibuat-buat dsb. Imam Ibnul Jauzy berkata: “Iblis banyak menyesatkan kebanyakan orang awam yang menghadiri majlis dzikir.. Aku mengetahui banyak sekali yang hadir dalam majlis tsb bertahun-tahun mereka mengikuti dzikir, tetapi keadaan dan tingkahlaku mereka tidak berubah sedikitpun, mereka tetap saja berjual-beli dengan bunga (riba), menipu dalam bekerja, tidak mengetahui hukum-hukum dalam shalat, melakukan ghibbah.. Mereka adalah orang-orang yang terjebak tipu-daya syaithan, aku melihat mereka menyangka bahwa tangisan mereka di majlis dzikir/doa tsb bisa menghapus dosa-dosa mereka?! Sungguh mereka telah tertipu [5].”

5. Menghindari berkumpul dalam satu suara dengan pimpinan satu orang, atau menggunakan gaya dan cara ataupun waktu-waktu yang ditentukan tanpa didasari dalil. Seorang sahabat AbduLLAH bin Mas’ud ra dalam atsar yang shahih pernah melihat suatu kaum berkumpul di mesjid membuat beberapa kelompok, tiap kelompok ada yang memimpin dan di tangan mereka ada biji-bijian lalu sang pemimpin berkata: “Bertakbirlah 100 kali!” maka mereka pun melakukannya, lalu berkata lagi sang pemimpin: “Bertahlillah 100 kali!” Maka merekapun melakukannya, lalu ia pun berkata lagi: “Bertasbihlah 100 kali!” Maka mereka pun menurutinya. Lalu Ibnu Mas’ud mendatanginya dan berkata: “Apa yang kalian lakukan?” Jawab mereka: “Wahai Abu AbduRRAHMAN, batu-batu kerikil ini kami gunakan untuk menghitung tahlil dan tasbih kami.” Kata Ibnu Mas’ud: “Celakalah wahai ummat Muhammad, alangkah cepatnya kerusakan kalian, para sahabat masih banyak yang hidup, pakaian mereka belum lagi rusak dan bejana mereka belum lagi hancur apakah kalian merasa lebih baik dari agama mereka?” Maka jawab mereka: “Demi ALLAH, wahai Abu AbduRRAHMAN kami hanya menginginkan kebaikan.” Jawab Ibnu Mas’ud: “Berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tapi tidak tahu caranya [6].” Imam Asy-Syatibi berkata bahwa orang yang mengadakan dzikir berjama’ah dengan satu suara dan berkumpul pada waktu-waktu tertentu maka semua itu tidak benar dan tidak ada dalilnya [7].

6. Tidak boleh mengeraskan suara ketika berdzikir dan hendaklah dengan suara yang pelan dan lebih disunnahkan di tempat yang tersembunyi. Dalam Al-Qur’an diperintahkan kita berdoa dengan suara pelan (QS Al-A’raf, 7/55) dan dalam hadits shahih disebutkan bahwa salah satu yang akan dinaungi di Hari Qiyamah diantaranya adalah: “… seorang yang berdzikir kepada ALLAH ketika sendirian lalu berlinangan airmatanya.. [8]”

7. Tidak boleh berdzikir ketika khatib sedang berkhutbah (bagi laki-laki), saat buang hajat dan saat berhubungan suami-istri, saat membaca dalam shalat dan saat sangat mengantuk [9].

8. Hendaklah memulai dan mengakhiri doa dengan hamdalah dan lalu shalawat [10] yang diajarkan oleh Al-Qur’an atau Sunnah Nabi SAW.

9. Boleh mengangkat kedua tangan [11] tapi tanpa mengusapkannya ke muka [12], saat ber-istighfar disunnahkan memberi isyarat dengan satu jari [13], saat istisqa’ disunnahkan mengangkat tangan tinggi-tinggi tetapi dengan membalikkan telapak tangan [14].

10. Tidak benar menentukan batasan-batasan jumlah bilangan tanpa dasar hadits yang shahih, demikian pula mengambil potongan-potongan ayat atau huruf-huruf dalam Al-Qur’an, karena jika hal tersebut baik niscaya telah dilakukan oleh Nabi SAW [15].

ALLAHu a’lamu bish Shawab…

REFERENSI:

[1] Aysaru Tafsir, II/28
[2] Majmu Fatawa, XXII/510-511
[3] Ibid, XXII/525
[4] Al-Fawa’id, hal. 247; lih. Juga Fawa’idul Fawa’id oleh Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid, hal. 309
[5] Al-Muntaqa min Talbisu Iblis, Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid, hal. 542
[6] Sunan Ad-Darimi I/68-69, di-shahih-kan oleh Al-Albani dlm Ash-Shahihah, no. 2005
[7] Al-I’tisham, I/318-321
[8] HR Bukhari & Muslim, lih. Riyadhus Shalihin hadits no. 376
[9] Shahih dan Dha’if Kitab Al-Adzkar, hal. 58
[10] Ad-Da’a wa Ad-Dawa’, Ibnul Qayyim hal. 14-21
[11] Shahih Abi Daud, Al-Albani , I/279; Fathul Bari’ XI/143
[12] Demikian pula pendapat Imam An-Nawawi, ulama besar madzhab Syafi’i dalam kitabnya Al-Adzkar
[13] Shahih Muslim, hadits no. 874
[14] HR Bukhari no. & Muslim no. 896
[15] Al-I’tisham, I/318-319


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: