Posted by: safarah | 72007000UTC11bUTCSun, 25 Nov 2007 13:46:12 +0000 24, 2007

Bolehkan berduaan dengan tunangan?

BOLEHKAH BERDUAAN DENGAN TUNANGAN? Dr. Yusuf Qardhawi

PERTANYAAN

Saya mengajukan lamaran (khitbah) terhadap seorang gadis

melalui keluarganya, lalu mereka menerima dan menyetujui

lamaran saya. Karena itu, saya mengadakan pesta dengan

mengundang kerabat dan teman-teman. Kami umumkan lamaran

itu, kami bacakan al-Fatihah, dan kami mainkan musik.

Pertanyaan saya: apakah persetujuan dan pengumuman ini dapat

dipandang sebagai perkawinan menurut syari’at yang berarti

memperbolehkan saya berduaan dengan wanita tunangan saya

itu. Perlu diketahui bahwa dalam kondisi sekarang ini saya

belum memungkinkan untuk melaksanakan akad nikah secara

resmi dan terdaftar pada kantor urusan nikah (KUA).

JAWABAN

Khitbah (meminang, melamar, bertunangan) menurut bahasa,

adat, dan syara, bukanlah perkawinan. Ia hanya merupakan

mukadimah (pendahuluan) bagi perkawinan dan pengantar ke

sana.

Seluruh kitab kamus membedakan antara kata-kata “khitbah”

(melamar) dan “zawaj” (kawin); adat kebiasaan juga

membedakan antara lelaki yang sudah meminang (bertunangan)

dengan yang sudah kawin; dan syari’at membedakan secara

jelas antara kedua istilah tersebut. Karena itu, khitbah

tidak lebih dari sekadar mengumumkan keinginan untuk kawin

dengan wanita tertentu, sedangkan zawaj (perkawinan)

merupakan aqad yang mengikat dan perjanjian yang kuat yang

mempunyai batas-batas, syarat-syarat, hak-hak, dan

akibat-akibat tertentu.

Al Qur’an telah mengungkapkan kedua perkara tersebut, yaitu

ketika membicarakan wanita yang kematian suami:

“Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita (yang

suaminya telah meninggal dan masih dalam ‘iddah) itu dengan

sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini

mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan

menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu

mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali

sekadar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma’ruf

(sindiran yang baik). Dan janganlah kamu ber’azam (bertetap

hati) untuk beraqad nikah sebelum habis ‘iddahnya.” (Al

Baqarah: 235)

Khitbah, meski bagaimanapun dilakukan berbagai upacara, hal

itu tak lebih hanya untuk menguatkan dan memantapkannya

saja. Dan khitbah bagaimanapun keadaannya tidak akan dapat

memberikan hak apa-apa kepada si peminang melainkan hanya

dapat menghalangi lelaki lain untuk meminangnya, sebagaimana

disebutkan dalam hadits:

“Tidak boleh salah seorang diantara kamu meminang pinangan

saudaranya.” (Muttafaq ‘alaih)

Karena itu, yang penting dan harus diperhatikan di sini

bahwa wanita yang telah dipinang atau dilamar tetap

merupakan orang asing (bukan mahram) bagi si pelamar

sehingga terselenggara perkawinan (akad nikah) dengannya.

Tidak boleh si wanita diajak hidup serumah (rumah tangga)

kecuali setelah dilaksanakan akad nikah yang benar menurut

syara’, dan rukun asasi dalam akad ini ialah ijab dan kabul.

Ijab dan kabul adalah lafal-lafal (ucapan-ucapan) tertentu

yang sudah dikenal dalam adat dan syara’.

Selama akad nikah – dengan ijab dan kabul ini belum

terlaksana, maka perkawinan itu belum terwujud dan belum

terjadi, baik menurut adat, syara’, maupun undang-undang.

Wanita tunangannya tetap sebagai orang asing bagi si

peminang (pelamar) yang tidak halal bagi mereka untuk

berduaan dan bepergian berduaan tanpa disertai salah seorang

mahramnya seperti ayahnya atau saudara laki-lakinya.

Menurut ketetapan syara, yang sudah dikenal bahwa lelaki

yang telah mengawini seorang wanita lantas meninggalkan

(menceraikan) isterinya itu sebelum ia mencampurinya, maka

ia berkewaiiban memberi mahar kepada isterinya separo harga.

Allah berfirman:

“Jika kamu menceraikan isteri-isteri kamu sebelum kamu

mencampuri mereka, padahal sesungguhnya kamu telah

menentukan maharnya, maka bayarlah seperdua dari mahar yang

telah kamu tentukan itu, kecuali jika isteri-isterimu itu

memaafkan atau dimaafkan oleh orang yang memegang ikatan

nikah …” (Al Baqarah: 237)

Adapun jika peminang meninggalkan (menceraikan) wanita

pinangannya setelah dipinangnya, baik selang waktunya itu

panjang maupun pendek, maka ia tidak punya kewajiban apa-apa

kecuali hukuman moral dan adat yang berupa celaan dan

cacian. Kalau demikian keadaannya, mana mungkin si peminang

akan diperbolehkan berbuat terhadap wanita pinangannya

sebagaimana yang diperbolehkan bagi orang yang telah

melakukan akad nikah.

Karena itu, nasihat saya kepada saudara penanya, hendaklah

segera melaksanakan akad nikah dengan wanita tunangannya

itu. Jika itu sudah dilakukan, maka semua yang ditanyakan

tadi diperbolehkanlah. Dan jika kondisi belum memungkinkan,

maka sudah selayaknya ia menjaga hatinya dengan berpegang

teguh pada agama dan ketegarannya sebagai laki-laki,

mengekang nafsunya dan mengendalikannya dengan takwa.

Sungguh tidak baik memulai sesuatu dengan melampaui batas

yang halal dan melakukan yang haram.

Saya nasihatkan pula kepada para bapak dan para wali agar

mewaspadai anak-anak perempuannya, jangan gegabah membiarkan

mereka yang sudah bertunangan. Sebab, zaman itu selalu

berubah dan, begitu pula hati manusia. Sikap gegabah pada

awal suatu perkara dapat menimbulkan akibat yang pahit dan

getir. Sebab itu, berhenti pada batas-batas Allah merupakan

tindakan lebih tepat dan lebih utama.

“… Barangsiapa melanggar hukum-hukum Allah, mereka itulah

orang-orang yang zhalim.” (Al Baqarah: 229)

“Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, serta

takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka

adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (An Nur: 52)

———————–

Fatwa-fatwa Kontemporer

Dr. Yusuf Qardhawi


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: